Bencana di Wonogiri Telah 1 Miliar
Wonogiri, Harian Solo – Dalam waktu satu bulan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonogiri mencatat ada 30 di awal tahun 2015. Akibat bencana tersebut, angka kerugian mencapai Rp 1 miliar.
Menurut data yang berhasil diperoleh dari BPBD Wonogiri, 30 kasus bencana alam tersebut antara lain, tanah longsor dan angin rebut. Bencana terjadi di sejumlah kecamatan, seperti Giriwoyo, Kismantoro, Girimarto, Selogiri, maupun Kecamatan Wonogiri.
“90 persen dari bencana yang ada adalah tanah longsor,” ujar Kepala Pelaksana Harian BPBD Wonogiri, Bambang Haryanto, Senin (2/2/2015).
Kerusakan yang timbul akibat bencana di awal tahun ini antara lain rumah yang ambruk dan infrastruktur, baik jalan mau pun jembatan yang putus. Paling tidak ada sekitar 15 titik infrastruktur yang rusak. Angka kerugian tiap titik katanya mencapai mencapai Rp 50 juta. Sehingga, total kerusakan infrastruktur sebesar Rp 750 juta.
“Belum lagi kerusakan rumah warga yang juga mencapai belasan unit. Jika di tampah kerugian infrastruktur ya sekitar Rp 1 miliar. Padahal hanya dalam waktu satu bulan lebih beberapa hari,” ungkap mantan camat Selogiri itu
Dibandingkan tahun lalu pada bulan yang sama, angka kerugian akibat bencana yang timbul terbilang tinggi. Sementara itu, untuk mencegah jatuhnya korban jiwa pihaknya juga telah menyampaikan kepada camat dan kepala desa agar meminta warganya selalu waspada.
“Apalagi dari informasi yang kami terima curah hujan masih akan tinggi hingga sekitar akhir bulan ini,” ujar Bambang.
Sementara itu, Muhammad Natsir Noor Effendy, Kepala Bidang (Kabid) Kesiapsiagaan dan Kebencanaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng, beberapa waktu lalu mengatakan sejumlah kabupaten/kota di Jateng menjadi kantong-kantong terjadinya bencana. Salah satunya adalah Kabupaten Wonogiri, ketika penghujan selalu ada bencana, banjir, tanah longsor, serta angin ribut.
“Bencana yang melanda Wonogiri tidak mengenal musim. Baik musim kemarau atau penghujan, ada saja bencana datang melanda,” katanya. (Red-HS99/Arief Setiyanto).
Menurut data yang berhasil diperoleh dari BPBD Wonogiri, 30 kasus bencana alam tersebut antara lain, tanah longsor dan angin rebut. Bencana terjadi di sejumlah kecamatan, seperti Giriwoyo, Kismantoro, Girimarto, Selogiri, maupun Kecamatan Wonogiri.
“90 persen dari bencana yang ada adalah tanah longsor,” ujar Kepala Pelaksana Harian BPBD Wonogiri, Bambang Haryanto, Senin (2/2/2015).
Kerusakan yang timbul akibat bencana di awal tahun ini antara lain rumah yang ambruk dan infrastruktur, baik jalan mau pun jembatan yang putus. Paling tidak ada sekitar 15 titik infrastruktur yang rusak. Angka kerugian tiap titik katanya mencapai mencapai Rp 50 juta. Sehingga, total kerusakan infrastruktur sebesar Rp 750 juta.
“Belum lagi kerusakan rumah warga yang juga mencapai belasan unit. Jika di tampah kerugian infrastruktur ya sekitar Rp 1 miliar. Padahal hanya dalam waktu satu bulan lebih beberapa hari,” ungkap mantan camat Selogiri itu
Dibandingkan tahun lalu pada bulan yang sama, angka kerugian akibat bencana yang timbul terbilang tinggi. Sementara itu, untuk mencegah jatuhnya korban jiwa pihaknya juga telah menyampaikan kepada camat dan kepala desa agar meminta warganya selalu waspada.
“Apalagi dari informasi yang kami terima curah hujan masih akan tinggi hingga sekitar akhir bulan ini,” ujar Bambang.
Sementara itu, Muhammad Natsir Noor Effendy, Kepala Bidang (Kabid) Kesiapsiagaan dan Kebencanaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng, beberapa waktu lalu mengatakan sejumlah kabupaten/kota di Jateng menjadi kantong-kantong terjadinya bencana. Salah satunya adalah Kabupaten Wonogiri, ketika penghujan selalu ada bencana, banjir, tanah longsor, serta angin ribut.
“Bencana yang melanda Wonogiri tidak mengenal musim. Baik musim kemarau atau penghujan, ada saja bencana datang melanda,” katanya. (Red-HS99/Arief Setiyanto).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar